Langsung ke konten utama

Jika ada saat ini kenapa harus menanti sampai esok

 
Hari itu telah menjauhiku hingga aku lupa dan lega. Karna tangisanku telah reda dan Tuhan menjawab segala do'aku diwaktu yang tepat.
Mungkin ia tak seharusnya aku terlalu khawatir namun hal itu memang sulit aku inginkan dan menjadikan hal itu menjadi semakin mengkhawatirkan.


Tuhan, aku tau sebagian besar yang menimpaku adalah ulahku sendiri, untuk sikapku dan segala ketidakpedulianku padaku sendiri dan untuk mereka.
Tuhan, walau aku terlalu banyak berharap namun dalam nyataku aku kesulitan dalam melangkah untuk sekedar menyapa kenyataan. Karna hatiku sangat-sangat sensitif. Hingga aku menyimpan marahku, benciku untuk mereka yang pernah menyakitiku.
Hingga saat, hingga waktu, hingga aku miliki aku sendiri, hingga cahaya itu telah menyinari hatiku bahwa aku sudah saatnya menjadi sebenar-benarnya manusia yang bermanfaat setidaknya untuk diriku sendiri.
Jika ada saat ini kenapa harus menanti sampai esok. Bukankah sekalipun esok tiba untukku apakah aku yakin bahwa aku tak akan menunda lagi. Bukankah aku sudah mengulang hal seperti itu berkali-kali hingga apa yang diharap sudah lama membusuk menjauh dan tampak tak ada harapan lagi karna harapan telah menjelma menjadi penyakit, keraguan, kekhawatiran dan tertinggal jauh ... Jauh ...

Komentar